Indeks Desa Membangun 2022 keluar

12 desa di Blora dicap tertinggal

Foto: Dokumen wartablora.com

Agung Heri Susanto, Kepala Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora.

Selasa, 26 Juli 2022 17:46 WIB

BLORA (wartaDESA)—Dua belas desa di Kabupaten Blora dicap tertinggal. Meski demikian, terdapat 2 desa, yakni Desa Japah di Kecamatan Japah dan Desa Sidorejo di Kecamatan Kedungtuban yang meraih peringkat teratas, dikategorikan desa mandiri. Sementara 37 desa lainnya tergolong desa maju, sedangkan sisanya dari 271 desa yang ada di Kabupaten Blora masih sebagai desa berkembang. Dua belas cap desa tertinggal tersebut tercatat dalam Status Kemajuan dan Kemandirian Desa 2022 yang tertuang dalam Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bernomor 80 tahun 2022. Beleid ini berdasarkan pemutakhiran data indeks desa membangun tahun 2022, yang mengukur 3 indeks, antara lain: indeks ketahanan sosial, indeks ketahanan ekonomi, serta indeks ketahanan ekologi lingkungan.

Dua belas desa ini tersebar di 7 kecamatan, yakni: Kecamatan Blora, Bogorejo, Cepu, Jati, Kradenan, Kunduran, dan Kecamatan Randublatung. Dua belas desa tertinggal ini antara lain: Desa Plantungan di Kecamatan Blora, Desa Gandu dan Desa Jurangjero di Kecamatan Bogorejo, Desa Nglanjuk di Kecamatan Cepu, Desa Gempol dan Desa Kepoh di Kecamatan Jati, Desa Megeri dan Desa Ngrawoh di Kecamatan Kradenan, Desa Botoreco dan Desa Buloh di Kecamatan Kunduran, serta Desa Kadengan dan Desa Tanggel di Kecamatan Randublatung.

Secara poin, kedua belas desa ini mencatatkan nilai indeks desa membangunnya di bawah 0,6. Indeks terendah disematkan kepada Desa Nglanjuk, Kecamatan Cepu yang tercatat indeks desa membangunnya berada pada 0,5146. Desa ini tercatat buruk dalam indeks ketahanan ekologi lingkungan, berada pada poin di bawah 0,3. Indeks ini mengukur kualitas lingkungan desa, juga bencana alamnya serta tanggap bencanannya. Meski demikian, desa yang terletak di wilayah selatan Kecamatan Cepu ini mencatatkan ketahanan sosial yang mencukupi, yakni berada pada poin di atas 0,7. Ketahanan sosial ini didapat dari mengukur ketahanan pendidikan, kesehatan, modal sosial, dan permukiman. Sementara ketahanan ekonomi yang didapat dari keragaman produksi masyarakat, akses pusat perdagangan dan pasar, akses logistik, akses perbankan dan kredit, dan keterbukaan wilayah; berada di bawah 0,6; atau statusnya tertinggal.

Hal yang kontras dicatatkan Desa Sidorejo di Kecamatan Kedungtuban yang mendapat skor tertinggi. Bila Desa Japah di Kecamatan Japah mencatatkan skor indeks desa membangun pada 0,8259; Desa Sidorejo mencatatkan skor 0,8506. Kedua desa ini oleh pemerintahan pusat distatuskan sebagai desa mandiri. Dalam dokumen Keputusan Menteri yang wartablora.com peroleh,  suatu desa mendapatkan status sebagai desa mandiri saat indeks desa membangunnya berada di atas poin 0,82. Sementara status desa maju, berada pada poin di atas 0,7 hingga 0,81; dan desa berkembang poinnya di atas 0,6.

Meski secara total indeks pembangunan desa berada di bawah Desa Sidorejo, indeks ketahanan ekonomi Desa Japah lebih kuat dibanding Desa Sidorejo. Secara kasat mata, Desa Japah yang menjadi sentra kota kecamatan memang lebih bertumbuh akses-akses perekonomiannya. Namun, secara ketahanan sosial, Desa Sidorejo lebih kuat. Demikian juga untuk ketahanan ekologi lingkungannya.

Kepala Desa Sidorejo Agung Heri Susanto mengaku bersyukur atas status desa yang dipimpinnya. "Ini hasil bersama antara masyarakat desa, BPD, RW, RT, PKK, juga lembaga desa lainnya, serta pendamping desa," kata Agung yang juga memegang ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Blora.

Lebih lengkap data status kemajuan desa di Kabupaten Blora dapat dilihat di sini.