Desa Temulus akan punya lapangan sepakbola

Foto: wartablora.com

Audiensi kedua Forum Perjuangan Pemuda Desa (FPPD) Desa Temulus di Kecamatan Randublatung dengan Pemerintahan Desa Temulus, Kamis (14/5/2020). Audiensi membuahkan hasil dengan diannggarkannya Rp120 juta untuk mewujudkan adanya lapangan sepakbola dan lapangan bola voli di desa tersebut.

Kamis, 14 Mei 2020 22:03 WIB

BLORA (wartaDESA)—Forum Perjuangan Pemuda Desa (FPPD) di Desa Temulus, Kecamatan Randublatung mampu mendesak pemerintahan desa setempat untuk menganggarkan uang yang akan dipakai untuk membuat lapangan sepakbola dan lapangan bola voli. Desakan ini membuahkan hasil usai audiensi forum tersebut dengan pemerintahan desa setempat yang digelar pada Kamis malam (14/5/2020).

Desakan ini dilakukan forum pemuda desa di Desa Temulus setelah memperjuangkan cita-cita mereka sejak Oktober tahun lalu.

"Kami memulai perjuangan mewujudkan cita-cita ini dengan menyampaikan aspirasi pada 26 Oktober tahun lalu. Ketika itu, kami, pemuda desa di Desa Temulus, Kecamatan Randublatung mengorganisasikan diri dalam wadah untuk menyatukan semangat turut serta dalam pembangunan desa. Lalu kami mengajukan surat untuk audiensi dengan pemerintahan desa, yang akhirnya dapat digelar pada tanggal yang saya sebutkan tadi," kata Eko Priyanto, Ketua FPPD Desa Temulus, Kecamatan Randublatung dalam siaran persnya, Kamis malam.

Cita-cita pemuda desa tersebut antara lain: adanya lapangan sepakbola, lapangan bola voli, dan lapangan futsal. Tak hanya bercita-cita pengembangan di bidang olahraga, mereka juga bercita-cita membangun kedaulatan ekonomi pemuda desa.

"Selain lapangan untuk olahraga, kami juga ingin memiliki perkebunan sendiri, yakni jambu madu. Tapi memang belum bisa dianggarkan pada tahun ini. Kami memaklumi," kata Eko.

Eko dapat memakluminya lantaran ada komitmen dari pemerintah desanya untuk melibatkan forum perjuangan pemuda tersebut dalam rembug pembangunan desa.

"Ada partisipasi publik yang dikomitmenkan oleh pemerintah desa untuk menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan," ujarnya sembari menambahkan jika forum pemuda tersebut telah diminta untuk membuat rencana anggaran biaya (RAB) pembuatan lapangan.

Matinya karang taruna

Lukito, warga desa setempat yang turut mendampingi forum dalam audiensi tersebut mengatakan, terbentuknya forum pemuda tersebut sebagai alternatif dari tidak berfungsinya organisasi karang taruna di desanya. Forum ini lebih bisa independen dan menjaga jarak untuk tetap melihat persoalan di desa secara kritis dan obyektif.

"Selain tentunya sebagai wadah dan tempat menyalurkan aspirasi dari cita-cita positif dari pemuda di desa," kata aktivis yang sering mengadvokasi petani tersebut.

Lukito yang turut membidani kelahiran forum pemuda itu pada tahun lalu mengatakan, tidak terwakilinya kepentingan pemuda desa oleh organisasi karang taruna membuat banyak pemuda desa tersebut berniat untuk mengorganisir sendiri sebagai representasi (keterwakilan) kepentingan pemuda desa.

"Jadi teman-teman ini datang ke rumah, mengungkapkan kegelisaan mereka karena tidak punya alat perjuangan untuk kepentingan mereka. Apalagi selama ini mereka juga merasa tidak terwakili adanya karang taruna," kisah Lukito yang turut mengadvokasi persoalan tanah di Kawasan Wonorejo, Cepu ini.

Forum ini, tambahnya, bisa diadopsi oleh desa-desa lain yang pemudanya dapat didorong untuk mengorganisasikan dirinya sebagai tempat pembelajaran demokrasi, selain wadah untuk mewakili kepentingan pemuda di desa masing-masing. ***