Dampingi Desa Nglarohgunung, Lumbung Kreasi Nusantara siap wujudkan Desa Berdikari

Foto: Dokumen wartablora.com

Ketua LKN M. Khoiruddin dan Muhammad Munasir, Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Eka Putra Desa Nglarohgunung menunjukkan nota kesepahaman yang telah ditandatangani, mengapit Kepala Desa Nglarohgunung Nur Eka Kusmiran, dan didampingi tokoh-tokoh penggerak Desa Berdikari.

Sabtu, 19 Februari 2022 11:43 WIB

BLORA (wartaDESA)—Sejumlah yayasan dan lembaga yang tergabung dalam Lumbung Kreasi Nusantara (LKN) melakukan pendampingan di Desa Nglarohgunung, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Pendampingan ini disosialisasikan pada Rabu, 16 Februari 2022 di Balai Desa Nglarohgunung, melibatkan pemerintah desa setempat, pendamping desa, dan tokoh-tokoh masyarakat desa tersebut. Usai sosialisasi dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepemahaman (MoU, memorandum of understanding) antara M. Khoiruddin, Ketua Lumbung Kreasi Nusantara dan Muhammad Munasir, Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Eka Putra Desa Nglarohgunung. Penandatanganan nota kesepemahaman disaksikan Kepala Desa Nglarohgunung Nur Eka Kusmiran.

"Program Desa Berdikari di Desa Nglarohgunung diwujudkan ke dalam serangkaian aktivitas kreatif berbasis penelitian, pendampingan, aksi dan juga monitoring serta evaluasi yang dikerjakan secara partisipatif, melibatkan warga Desa Nglarohgunung sebagai subyek utamanya guna mengembangkan desa mereka," papar Ketua Lumbung Kreasi Nusantara M. Khoiruddin yang biasa disapa Cak Rud.

Desain program tersebut akan berlangsung selama 6 bulan, dimulai dengan mengerjakan serangkaian penelitian aksi partisipatoris.

"Seluruh rangkaian implementasi program Desa Berdikari melibatkan pemangku kebijakan, pemangku kepentingan yang di dalamnya ada aktor dan tokoh masyarakat di Desa Nglarohgunung, serta melibatkan pemerintahan desa setempat," urainya.

Dalam kurun waktu tersebut akan ada 6 tahapan yang akan dikerjakan Lumbung Kreasi Nusantara. Tahapan awalnya adalah RAP, akronim dari riset aksi partisipatoris. Riset ini akan digunakan dalam mendorong terjadinya perubahan desa yang lebih baik. Lumbung Kreasi Nusantara akan melibatkan akademisi dan peneliti antropologi untuk mengerjakan riset tersebut.

"Ada 5 kegiatan yang akan kita kerjakan dalam riset ini. Antara lain: desk research untuk menyusun instrumen potensi dan tantangan desa setempat dalam sosial ekonominya, mengidentifikasi stakeholder desa setempat dan BUMDes-nya, pengumpulan data potensi dan tantangan BUMDes setempat, pengumpulan data modal sosial dan ekonomi, serta analisis dan rekomendasi aksi unit kerja di BUMDes," terangnya.

Setelah tahapan riset selesai, akan menginjak pada tahapan berikutnya yang disesuaikan dengan unit kerja yang ada di BUMDes.

"Di BUMDes Nglarohgunung ada unit kerja pamsimas, atau air bersih. Ada unit kerja peternakan sapi, pertanian dan ketahanan pangan, serta ekonomi kreatif. Masing-masing tahapan akan kita lakukan workshop inovasi, tata kelola dan pendampingan. Di tahapan paling ujung akan ada monitoring dan evaluasi untuk mendapatkan umpan balik," jelas Cak Rud.

Untuk mendapatkan umpan balik yang luas, LKN akan mengerjakan diseminasi atau penyebarluasan dengan membagikan capaian-capaian program Desa Berdikari.

"Peserta program kami adalah pemangku kebijakan, remaja, anak muda dan dewasa dari rentang usia 17—39 tahun dengan aneka latar belakang, baik dari status pendidikan, jenis kelamin, maupun tingkat sosial ekonomi. Setiap peserta yang terlibat dalam program ini kami harapkan dapat memiliki komitmen dan secara sukarela meluangkan waktu untuk mengikuti serangkaian aktivitas-aktivitas dalam serangkaian program-program Desa Berdikari," paparnya.

Dari program ini, ada target hasil perubahan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek: adanya peningkatan kapasitas pengelola BUMDes, memiliki basis data dari audio hingga visual, dan peningkatan kinerja adalah sasaran yang ingin diraih dalam program Desa Berdikari.

"Untuk perubahan jangka panjang yang ingin kami sasar adalah adanya inovasi, kreasi, dan tata kelola yang bagus dari BUMDes, kemudian ada kerja-kerja kolaboratif antara semua komponen masyarakat di desa, penguatan kerja sama kelompok, serta kemampuan pendokumentasian data yang dipunyai warga desa," tutupnya. ***