Mengikuti les gratis bahasa Inggris di Perpusdes Bacem

Lebih banyak diminati anak perempuan, pengajaran lebih santai

Foto: Gatot Aribowo

Lia sedang mengajar les bahasa Inggris pada Sabtu, 11 September 2021.

Sabtu, 11 September 2021 18:37 WIB

SUCI dan Ajeng tiba belakangan. Jam menunjukkan lebih 15.30. Hari itu Sabtu, 11 September 2021, les bahasa Inggris segera dimulai. Les ini rutin diadakan setiap Sabtu sore, sudah berlangsung sejak 3 bulan lalu. Suci dan Ajeng baru Sabtu itu ikut untuk pertama kalinya. Keduanya kelas 8 di SMP 3 Jepon.

Jika Suci dan Ajeng merupakan anak baru di les bahasa Inggris yang diampu Aprilia Subiyanti, lain halnya dengan Arum Setyowati, adik kelas Suci dan Ajeng di sekolah yang sama. Arum adalah murid les Lia sejak awal les diadakan. Lia, panggilan Aprilia Subiyanti, mengadakan les setelah ikut bimbingan teknis di Semarang.

"Binteknya literasi, yang mengadakan Perpusnas di Semarang. Pesertanya seluruh Indonesia. Di situ kami dituntut untuk melakukan gebrakan di perpustakaan desa masing-masing setelah dari bintek," kata Lia yang menjadi kepala perpustakaan desa tersebut, sekaligus menjabat Sekretaris Desa.

Bintek diadakan pada 2 hingga 4 Juni 2021. Kabupaten Blora mengirim 10 orang dari 5 desa, masing-masing desa 2 orang. Desa-desa yang disertakan telah menjadi binaan literasi desa dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora. Desa-desa ini mengaktifkan perpustakaan di desanya, antara lain: Desa Bacem, Desa Balong, Desa Nglobo, Desa Temurejo, dan Desa Tawangharjo. Lia merupakan perwakilan dari Desa Bacem.

Gagasan untuk mengadakan les sebagai program literasi di perpustakaan yang dikepalainya telah muncul saat Lia ikut dalam bimbingan teknis literasi. Kemunculannya dari materi bimbingan. Apalagi ia dulunya pernah mengajar 8 tahun di SMA Balikpapan, Kalimantan Timur. Gejolak untuk mengajar kembali timbul. Namun ia tak langsung membuat program les di Perpustakaan Taufik Hidayah, nama perpustakaan di desanya. Butuh waktu 2 minggu untuk merencanakan dan mempersiapkannya sebelum les dibuka.

Jelang pekan ke-4 bulan Juni lalu, Lia mulai membuka lesnya. Tak hanya bahasa Inggris, Lia juga mengadakan les matematika tiap hari Minggu. "Tapi rencananya besok (12/9) mau adakan les keterampilan. Rencana membuat masker. Pesertanya ya anak-anak tadi (yang ikut les bahasa Inggris). Kita berlatih dari buku-buku yang kita punyai. Tidak perlu mendatangkan guru keterampilan membuat masker," katanya dengan tertawa renyah.

Jiwa-jiwa mengajar Lia masih kental. Pengalaman 8 tahun mengajar anak SMA dan 2 tahun mengajar anak usia dini, membuatnya cepat menyesuaikan suasana saat mengajar anak-anak yang baru menginjak SMP. Suasana pengajaran dibuat santai, diselingi dengan mencandai anak-anak kendati ada yang tidak berkonsentrasi dengan pelajarannya. Terutama Sugiyono dan Nur Roqim, anak laki-laki yang kerap kurang berkonsentrasi dengan penjelasan Lia di depan kelas.

Anak-anak perempuan yang ikut dalam les bahasa Inggris di perpustakaan desa Bacem.

Dua anak laki-laki ini merupakan murid les Lia sejak dibukanya les di perpustakaan desa, selain Arum. Total ada 10 anak yang jadi murid Lia sejak awal, 3 diantaranya laki-laki. Murid les Lia ini masih berlanjut hingga kini. Tidak berkurang, justru bertambah. Ruang perpustakaan yang tak luas, berukuran tak lebih 4x8 meter, separonya dipakai untuk les. Hampir tak muat. Deretan kursi yang diisi 4 anak berjarak belasan senti nyaris memenuhi ruangan yang digunakan untuk pengajaran. Sabtu sore itu ada 13 anak yang ikut les.  

Sore itu Lia mengulang pengajaran terakhir yang seminggu sebelumnya libur les. "Kita mengulang sedikit ya, di pertemuan terakhir. Karena minggu lalu libur les," kata Lia pada anak-anak lesnya.

Pelajaran yang diulang adalah telling time, yakni mengenai waktu. Ini adalah pelajaran bahasa Inggris tingkat dasar, disesuaikan kemampuan anak-anak. Di tingkat dasar ini Lia lebih banyak mengenalkan kosa kata dalam bahasa Inggris. Tak hanya artinya atau terjemahannya dalam bahasa Indonesia, Lia juga menjelaskan bentuk-bentuk kata tersebut. Mulai dari kata benda, kata sifat, hingga kata kerja.

Usai menjelaskan bentuk-bentuk kata dan memberikan contoh-contohnya, Lia lalu melatih anak-anak lesnya untuk memiliki keberanian membuat kalimat dengan menuliskannya di papan. Satu per satu maju ke depan, menulis dengan rangkaian kata benda dengan kata sifat. Kemudian dibaca bersama-sama sambil melafalkannya untuk melatih pengucapan. Jika ada yang salah menuliskannya, Lia lalu membetulkannya.

"Saya mencita-citakan anak-anak ini nanti memilki kemampuan interview dalam bahasa Inggris, dan membuat story telling," kata ibu satu anak ini.

Cita-cita Lia ini tak muluk. Pasalnya antusias anak-anak yang ikut lesnya begitu kuat. Beberapa anak yang dari luar Bacem, seperti dari Desa Jatirejo dan Desa Gombang yang merupakan tetangga desa Bacem tak pernah absen ikut les. Apalagi anak-anak yang dari desanya sendiri, termasuk Alysa Suci Rahmadhani yang dipanggil Suci, dan Diyah Ajeng Setiyo Ningrum yang dipanggil Ajeng yang sore itu merupakan anak baru. Mereka ini juga menjadi murid-murid Lia di les matematika yang pesertanya melebih peserta les bahasa Inggris.

"Karena les matematikanya pesertanya ada yang anak-anak SD," tutup istri dari seorang anggota TNI yang sedang bertugas nun jauh, di ujung timur negeri, di Jayapura, Papua. ***