Melihat penanganan stunting di Desa Bacem, Jepon

Diterjunkan 3 tim untuk menangani 7 keluarga

Senin, 27 Mei 2024 19:36 WIB
Foto: Gatot Aribowo

Teguh Ratmono, Kepala Puskesmas Puledagel memberikan arahannya kepada anggota tim yang akan diterjunkan untuk audit kasus stunting di Desa Bacem, Kecamatan Jepon pada Senin (27/5/2024).

Tiga tim diterjunkan Puskesmas Puledagel untuk melakukan pengecekan secara langsung audit kasus stunting di Desa Bacem, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora pada Senin (27/5/2024). Tiga tim ini terdiri dari tenaga kesehatan puskesmas, pendamping PKH (program keluarga harapan), perangkat desa, dan petugas dari kecamatan. Tiga tim diterjunkan untuk melakukan observasi lapangan terhadap 7 kasus stunting di Desa Bacem yang perlu perlakuan khusus. Bagaimana mereka bekerja?

AUDIT Kasus Stunting, disingkat AKS, adalah kegiatan yang dimotori tenaga-tenaga kesehatan dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) setempat yang wilayah kerjanya meliputi desa-desa. Melibatkan petugas dari birokrasi pemerintahan, baik kecamatan dan desa, kegiatan ini untuk diseminasi dan observasi faktor-faktor yang menyebabkan kondisi anak stunting hingga rentan stunting. Dalam audit ini, Puskesmas setempat menerjunkan tenaga-tenaga ahli kesehatan, mulai dari ahli gizi sampai ahli kesehatan lingkungan hingga tenaga promosi kesehatan dan bidan puskesmas.

"Selain itu melibatkan bidan koordinator, bidan desa, dan saya sendiri, manajemen puskesmas," kata Teguh Ratmono, Kepala Puskesmas Puledagel usai menggelar pertemuaan koordinasi terlebih dulu di Kantor Desa Bacem, diikuti Kepala Desa Bacem Sarmini dan Camat Jepon Aris Widodo.

Desa Bacem adalah desa wilayah ampuan Puskesmas Puledagel yang terdapat kasus stunting yang paling banyak. Diungkap Teguh, dari 10 desa yang menjadi wilayah kesehatan Puskesmas Puledagel terdapat 4 desa yang perlu diaudit kasus stuntingnya.

"Di Desa Bacem terdapat 7 kasus yang perlu diaudit. Artinya akan kita cek di lapangan. Kita observasi dengan kondisi di lapangan, kita cocokan dengan yang menjadikannya stunting itu. Bagaimana kondisi rumah dan lingkungannya, sampahnya, dan sebagainya. Kita cek pola makannya, kemudian pola lingkungannya, kebersihannya. Kemudian lantai rumahnya, sumber airnya," jelas Teguh.

Dari indikator-indikator pengecekan, penanganan stunting per kasus akan berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung pada temuan di lapangan.

"Mungkin lantainya kedap air. Atau oh, ini lantainya sudah bagus, tapi mungkin pola makannya kurang bagus, menunya tidak sesuai. Kemudian ada lagi, penyakit bawaan atau tidak," terangnya kemudian.

Temuan kasus stunting di Desa Bacem sendiri dilaporkan kepala desanya telah ada 14 kasus. Dari 14 kasus ini, separonya sudah mulai keluar dari perhatian khusus, alias perkembangan anak sudah mulai normal. Sementara separo sisanya perlu perhatian khusus yang melibatkan tenaga kesehatan untuk mengauditnya.

"Jadi hasil timbangan baduta, bawah dua tahun, di wilayah kerja-kerja kesehatan di Puskesmas Puledagel ada 4 desa yang perlu audit. Selain Desa Bacem, ada Desa Gersi, Desa Puledagel sendiri, juga Desa Weru. Dari 4 desa ini, Desa Bacem ada 7 kasus hasil dari screening yang dilakukan tiap bulan di posyandu," imbuhnya.

Memiliki kasus terbanyak, Pemerintah Desa Bacem tak tinggal diam untuk ikut menangani stunting yang dialami warganya. Pemerintahan Sarmini menganggarkan biaya untuk memberikan makanan tambahan buat anak-anaknya yang mengalami stunting.

"Jadi tiap hari kami kirim makanan yang ditangani oleh kader Posyandu," kata Sarmini usai koordinasi dengan tim Puskesmas Puledagel.

Makanan tambahan yang dikirim ini untuk 3 bulan penanganan dengan menu yang berbeda, sesuai dengan arahan ahli gizi dari puskesmas setempat.

"Jadi selama 90 hari kami berikan makanan tambahan dengan menu berbeda yang ditangani oleh kader untuk anak-anak yang kita kelompokan stunting. Dari 14 kasus, 7 kasus sudah tertangani dengan baik. Sementara sisanya perlu perhatian khusus, yang kami asusmsikan mengalami gizi buruk," ujar kepala desa yang berpenduduk hampir 2.000 jiwa ini.