Melihat dari dekat inklusi sosial perpustakaan desa Bacem

Dari perpustakaan tercipta kain keset dan berbagai minuman serbuk

Foto: Gatot Aribowo

Sarmini, Kepala Desa Bacem memperlihatkan keset produk dari salah seorang warganya.

Rabu, 15 September 2021 13:01 WIB

TAK ada yang mengira jika Sarini dan Sudarti bisa mengembangkan keterampilannya dari baca-baca buku di perpustakaan desa. Keduanya adalah warga Dukuh Manyaran, Desa Bacem, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Sarini terampil membuat keset dari perca, yakni potongan kecil kain sisa jahitan. Sementara Sudarti terampil membuat serbuk minuman beras kencur, kunyit asem, dan jahe. Jika Sarini menemukan ide desain kreatif dari baca-baca buku yang terkait dengan keterampilan yang didapat dari pekerjaan sebelumnya di Surabaya, Sudarti dapat keterampilan membuat serbuk-serbuk minuman itu dari baca-baca buku resep minuman.

Sarini sore itu, Sabtu, 4 September 2021 ada di rumah. Pagi hingga siang ia berkeliling jadi bakul blanja, yakni pedagang sayur-sayuran di desanya. Suaminya seorang pekerja proyek, saat ini bekerja di Jakarta. Menghidupi dua anak, yang satunya sudah menginjak SMP, Sarini merasa perlu mencari tambahan penghasilan dari tidak sekedar berdagang sayur-sayuran.

"Saya dulu pernah di pabrik di Surabaya, bisa membuat keset dari sana. Tapi sekedar bisa saja," katanya.

Pulang dari Surabaya dan kembali ke kampung halaman, Sarini aktif dengan kegiatan ibu-ibu pemberdaya kesejahteraan keluarga, dikenal dengan ibu-ibu PKK. Ibu-ibu ini berkegiatan setiap bulannya dua kali di balai desa. Ruang perpustakaan bersebelahan dengan balai desa. Di kegiatan ini, ibu-ibu PKK kerap berkunjung ke perpustakaan dan membaca-baca buku seperlunya.

"Terus terang saya mendapatkan ide-ide pola untuk membuat kerajinan keset dari perca ini dari membaca salah satu buku yang ada di perpustakaan. Ada buku tentang kerajinan perca," kata Sarini.

Berbekal kemampuan dasar yang telah dimilikinya, Sarini tergolong cepat menguasai keterampilan membuat keset dari perca. Hasil kerajinannya membuat beberapa tertangganya tertarik untuk membelinya. Satu keset di jual antara Rp20 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung lebar dan tebalnya. Produksinya belum banya, terkendala bahan baku. Saat ditemui sore itu, ia dapat pesanan dari 2 orang yang masih kerabatnya. Tapi tak ia sanggupi lantaran tak memiliki kecukupan bahan baku.

"Susah dapat bahan bakunya. Dari tukang jahit yang ada di desa ini, juga tak banyak yang saya dapat. Ini punya satu tas kresek besar dapat dari kain yang tak terpakai di rumah. Satu keset butuhnya paling gak 3 tas kresek besar kalau lebar dan tebal," kata Sarini sambil menunjukkan bahan bakunya yang baru terkumpul satu kresek.

Sarmini, Kepala Desa Bacem juga mengalami kesulitan membantu produksi keset warganya itu. Padahal keterampilan yang dimiliki Sarini telah dibagikan ke warga lain. Pada Juli 2021, pemerintahan desa yang dipimpinnya mengadakan pelatihan membuat keset dari kain perca. Pelatihnya Sarini sendiri. Pesertanya ibu-ibu PKK yang lain. Dari pelatihan ini, beberapa ibu-ibu menguasai keterampilan membuat keset juga.

"Tapi memang susah dapat bahan bakunya," kata Sarmini yang telah menjadi kepala desa selama 2 periode ini.

Susahnya mencari bahan baku ini membuat Sarini berpikir untuk berlatih keterampilan lain. "Saya tertarik untuk bisa produksi olah makanan. Kebetulan di perpusatakaan desa ada buku-buku resep makanan," kata Sarini.

Sudarti menunjukkan produknya di depan rumahnya.

Lain Sarini yang pedagang sayur, Sudarti sehari-hari bertani. Suaminya juga tukang batu, bekerja pas ada proyek bangunan. Sudarti mengawali berlatih membuat serbuk minuman sejak 5 tahun lalu. Hasil membuat serbuknya tak kalah dengan produksi pabrikan. Awal dipasarkan saat ikut pameran kerajinan di Kecamatan Jepon setahun kemudian. Ketika itu bungkusnya tak seperti sekarang yang lebih modern. Saat itu masih dibungkus plastik biasa, dan diberi label merk dengan cetakan kertas biasa. Cukup laku meski belum sesuai harapan. Tapi di lokapasar (marketplace) hampir sama sekali tidak laku. Baru tiga tahun kemudian bisa laku di pasaran yang ada di salah satu lokapasar yang ada di Indonesia.

"Saat masuk ke sana (lokapasar), bungkusnya sudah bagus seperti ini," kata Sudarti seraya menunjukkan kemasan gusset berbahan aluminium foil.

Kemasan ini dikenalkan mahasiswa yang kuliah kerja nyata di Desa Bacem pada 2019. Dari mahasiswa ini, produk-produknya dijual ke lokapasar. Sempat dapat perhatian dari banyak pembeli sebelum akhirnya tidak dilanjutkan gara-garanya akunnya tidak dikelola langsung Sudarti. Ketika itu penjualannya sudah mulai bagus.

"Setoran ke saya (secara periodik) bisa sampai Rp400 ribu," kata Sudarti.

Produksi dan penjualan Sudarti saat ini hanya mengandalkan pemesanan yang cakupannya Blora saja. Saat ada pemesanan, Sudarti baru belanja bahan baku. Sementara stok kemasan dia dia dapatkan dari lokapasar. Per kemasan ukuran 100 gram harga belinya bisa capai Rp1.000. Sedangkan label kemasan, ia mengandalkan perangkat desa yang membuat desainnya dan cetak di Blora kota. Dengan biaya-biaya tersebut, Sudarti menjual produknya Rp10.000 per kemasan 100 gram, dan Rp20.000 per kemasan 200 gram. Untuk produk kunyit asem, dipisahkan antara serbuk kunyit yang dibungkus dengan kemasan gusset, dan asem rebusan yang dibungkus dengan plastik.

Kendala-kendala yang dihadapi mereka berdua ini perlu dicarikan solusi. Kepala Desa Bacem Sarmini berharap ada peran pemerintah kabupaten dalam memecahkan persoalan pemasaran yang dihadapi Sudarti, dan mencarikan jalan keluar kendala bahan baku yang dihadapi Sarini. ***